Rabu, 11 Januari 2012

Pemilihan Media pembelajaran


Pengertian Media
Pengertian Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan, sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian
dan minat serta perhatian siswa dalam belajar
Media teridiri dari dua bagian, yaitu perangkat lunak (software) dan perangkat
keras (hardware), dan merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan
orang untuk menyalurkan pesan/informasi.

Pemilihan media pembelajar PAI perlu mempertimbangkan prinsip
pembelajaran PAI ABK. Dikaji dari tujuan pembelajaran PAI Ada  tiga (3)
prinsip utama pembelajaran, yaitu: mengembangkan pengetahuan tentang
ajaran kegamanan, terampil melakukan ajaran agama dalam kehidupan,
bersikap yang mencerminkan perilaku agamis dalam hidup bermasyarakat.

Penetapan pemilihan media setidaknya memperhatikan: 1) analisis
kesesuaian kondisi guru, siswa dan lingkungan, dan 2) karekteristik/sifat
media: a.  visible (dapat dilakukan), b.  interesting (menarik), c.  useful
(bermanfaat), d.  structured (susunan -- keunikannya),  accurate (tepat), dan        
f. prinsip kemudahan belajar siswa


PAI


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Pendidikan Agama Islam merupakan proses membimbing dan membina fitrah peserta didik secara maksimal dan bermuara pada terciptanya pribadi peserta didik sebagai muslim paripurna (insan-kamil)[1]. Menurut Prof. Dr. Omar Muhammmad Al-Touny al-Syaebani, diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses pendidikan[2].
a.   Dasar Pendidikan Agama Islam
Menetapkan al-Qur’an dan Hadis sebagai dasar Pendidikan Agama Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang disandarkan pada keimanan semata. Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dapat dibuktikan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.
Sebagai pedoman, al-Qur’an tidak ada keraguan di padanya firman Allah SWT: Q. S. Al Baqarah. Ayat 2.
Yang artinya:
Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
     Ia tetap terpelihara kesucian dan kebenarannya, baik dalam pembinaaan aspek kehidupan spritual maupun aspek sosial budaya dan pendidikan. Demikian pula dengan kebenara hadis sebagai dasar kedua bagi Pendidikan Agama Islam. Secara umum, hadis dipahami sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, serta ketetapannya. Kepribadian Rasul sebagai uswat al-Hasanah yaitu contoh tauladan yang baik.
Dalam Pendidikan Agama Islam, sunnah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu:
1) Menjelaskan sistem Pendidikan Agama Islam yang terdapat dalam al-Qur’an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat didalamnya.
2) Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat, perlakuan terhadap anak-anak, dan pendidik keimanan yang pernah dilakukannya[3].


Guru PAI


KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PAI
Guru mempunyai peranan yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai tenaga profesi yang bermartabat dan profesional. Guru merupakan titik  sentral dari peningkatan kualitas pendidikan yang bertumpu pada kualitas proses pembelajaran. Tetapi, mengapa peningkatan profesionalisme guru tidak dilakukan secara bersungguh-sungguh? Padahal, guru profesional akan menghasilakan proses dan hasil pendidikan yang berkualitas dalam rangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif, sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang sistem pendidikan nasional (UU Sisdiknas).
Religiusitas berkembang semenjak usia dini melalui proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dengan pengaruh yang datang dari luar diri manusia. Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam, sifat, serta kualitas religiusitas yang akan terekspresikan pada perilaku sehari-hari. Disinilah peran guru yang profesional untuk membimbing, mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses pendidikan. Dengan profesionalisme guru, maka guru masa depan tidak tampil lagi sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya menonjol selama ini, tetapi beralih sebagai (coach), pembimbing (counselor), dan manajer belajar (learning manager). Sebagai pelatih, seorang guru akan berperan seperti pelatih olah raga[1].
Guru mendorong siswa untuk menguasai alat belajar, memotivasi siswanya bekerja keras dan mencapai prestasi setinggi-tingginya, dan membantu siswa menghargai nilai belajar dengan pengetahuan. Sebagai pembimbing atau konselor, guru akan berperan sebagai sahabat siswa, menjadi teladan dalam pribadi yang mengundang rasa hormat dan keakraban siswa. Sebagai manajer belajar, guru akan membimbing siswanya belajar, mengambil inisiatif, dan mengeluarkan ide-ide baik yang dimilikinya


[1] Kusnandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 50

Psikologi Agama


Perkembangan religiusitas pada usia anak

Religiusitas berkembang semenjak usia dini melalui proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dengan pengaruh dari luar manusia (Clark, 1958). Proses perkembangan religiusitas melewati tiga periode, yaitu: periode anak, remaja, dan dewasa. Penanaman nilai-nilai keagamaan nilai-nilai keagamaan tentang konsep ketuhanan, ibadah dan nilai-nilai moral yang berlangsung semenjak dini mampu membentuk religiusitas anak mengakar secara kuat dan mempunyai pengaruh sepanjang hidup (Hurlock, 1978).
Teori perkekmbangan religiusitas menurut menurut Clark
ideas accepted on authority. semua pengetahuan yang dimiliki anak datang dari luar dirinya terutama dari orang tuanya. Semenjak lahir anak terbiasa menerima apa yang diasmpaikan orang tuanya. Maka nilai-nilai agama yang diberikan akan mudah diterima dan melekat pada diri anak.
Unreflective. anak menerima konsep keagamaan berdasar otoritas, pengetahuan yang masuk pada usia awal dianggap suatu yang menyenangkan terutama yang dikemas dalam bentuk cerita.
Egocentric. Mulai pada usia satu tahun pada anak terkembang kesadaran keberadaan tentang dirinya. Dalam proses pembentukan rasapentingnya keberadaan diri tumbuh egosentrisme, dimana anak melihat lingkungan dengan berpusat pada kepentingan dirinya. Maka pemahaman religiusitas anak juga didasarkan pada kepentingan diri tentang masalah keagamaan.
Antropomorphic.  Sifat anak yang mengkaitkan keadaan sesuatu yang abstrak dengan manusia.
verbalized and retualistic. Perilaku keagamaan pada anak baik yang menyangkut ibadah maupun moral baru bersifat lahiriyah, verbal, dan ritual tampa keinginan untuk memahaminya.
Imitative. Sifat dasar anak dalam melakukan perilaku sehari-hari adalah menirukan apa yang terserap dari lingkungannya.
spontaneous in some respect. Perhatian  secara spontan terhadap masalah agama yang bersifat abstrak.
Wondering. Rasa takjub yang menimbulkan rasa gembira dan heran terhadap dunia baru yang terbuka didepannya.
Reliogiositas anak adalah  hasil dari suatu proses perkembangan yang berkesinambingan dari lahir sampai menjelang usia remaja. Dalam proses tersebut ada faktor internal maupun eksternal yang ikut berperan, diantaranya yaitu:
Peran perkembangan kognisi. Konsep tentang nilai-nilai keagamaan yang digunakan sebagai dasar pembentukan religiusitas masuk dalam diri anak melalui kemampuan kognisi. Kognisi dipahami sebagai kemampuan mengamati dan menyerap pengetahuan dan pengalaman dari luar diri individu.
Peran hubungan orang tua dengan anak. Orang tua sebagai sosok yang terdekat dengan anak selslu membimbing dan mengembangkan potensi religiusitas pada diri anak.
Peran consciense, guilt and shame dalam perkembangan religiusitas. Consciense (kata-hati), guilt (rasa bersalah), dan shame (rasa-malu) adalah keadaan jiwa yang saling berurutan. Conscience adalah kemampuan untuk mengerti tentang apa yang benar dan salah, apa yang baik dan apa yang buruk. Shame adalah reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap pernilaian negatif dari orang lain pada dirinya(Harlock, 1978).
Peran interaksi sosial dalam perkembangan religiusitas anak. Interaksi sosisal adalah kesempatan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan diluar rumah, seperti dengan teman sebaya dan kawan sekolah.peranan ini juga penting bagi perkembangan religiusitas, karena melaui sosial anak akan   mengetahui apakah perilakunya yang telah terbentuk dari keluarga dapat diterima atau ditolak oleh lingkunganya. Interaksi sosial menimbulkan motivasi anak untuk berperilaku seperti apa yang diterima oleh lingkungannya.

Psikologi islam


Psikologi Perkembangan Islami
A.    Definisi dan Ruang Lingkup Psikologi Perkembangan Islami
Psikologi perkembangan islami merupakan psikologi perkembangan yang mengkaji segala aspek perkembangan manusia dari perspektif Islam. Dengan demikian, secara umum psikologi perkembangan islami memiliki kesamaan objek studi dengan psikologi perkembanganyaitu proses pertumbuhan atau perubahan manusia. Psikologi perkembangan membatasi penelitiannya dari konsepsi samapi usia lanjut atau kematian, maka melalui studi literature keagamaan, psikologi perkembangan islami dapat memperluas ruang lingkup penelitiannya pada kehidupan yang bersifat transcendental, termasuk kehidupan setelah mati. Psikologi perkembangan islami juga bersifat fundamental yaitu memandang manusia sesuai dengan citranya sebagai khalifah Allah di muka bumi, seprti yang telah diterangkan dalam Al Qur’an dan Hadist. Sehingga, psikologi perkembangan islami merupakan kajian atas proses pertumbuhan dan perubahan manusia yang menjadikan Al Qur’an dan Hadist sebagai landasan berfikirnya.
Psikologi perkembangan islami juga membahas tentang berbagai aspek perkembangan yaitu aspek perkembangan fisik, kognitif, emosional, social, moral dan lain – lain. Dalam psikologi, istilah perkembangan memiliki banyak makna. Perkembangan berarti segala perubahan kualitatif dan kuantitatif yang menyertai pertumbuhan dan proses kematangan manusia. Dalam hal ini, pertumbuhan dan kematangan dianggap sebagai bagian dari pengertian umum perkembangan. Ruang lingkp definisi ini mencakup tentan perkembanagn sepanjang kehidupan manusia diantaranya  mencakup perkembangan prakelahiran, bayi, anak – anak, remaja, dewasa dan usia lanjut. Psikologi perkembangan islami melanjutkan tentang kehidupan ini dengan kehidupan pasca kematian.
Bidang kajian ini tidak hanya menggambarkan karakteristik psikologik yang berubah dari waktu ke waktu, namun juga berusaha menjelaskan prinsip – prinsip dasar dan factor internal yang bekerja mendasari perubahan ini. Untuk memahami hal ini diperlukan model tertentu dan model perkembangan tidak harus bersifat komputasional, tapi harus dapat menjelaskan proses yang terjadi. Model perkembangan islami tidak boleh bertentanagn dengan Al Qur ‘an dan Hadist karena memiliki paradigm sendiri yang mendasari kajiannya tentang perkembanagn manusia.

Psikologi Islam


Prinsip-prinsip perkembangan anak dalam Islam

Anak adalah anugrah  terindah
Anak adalah amanah Allah
Anak adalah fitnah bagi para orang tua.
Sebagai orang tua, sebagai calon guru, kita ingin memberikan pendidikan dan menjadi fasilitator terbaik dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Kadang-kala begitu inginnya kita memenuhi kewajiban tersebut, kita melupakan kesiapan, minat, situasi dari anak-anak itu sendiri.

I. Prinsip Pertama :
“Kematangan dan Proses Belajar Sebagai Dasar Perkembangan”
Sekeras apapun seseorang mengajarkan bayi berbicara atau berjalan diusia 4 bulan, ia hanya akan menemui kegagalan. Karena pada usia tersebut, bayi belum mempunyai kematangan untuk berbicara atau berjalan.  Secara biologis,  ada perubahan pada otak dan sistim syaraf yang akan memberikan perintah pada aspek konitif dan fisik sang anak. Jika perubahan ini telah maksimal, maka sang bayi baru bisa melakukan kegiatan tersebut. Kita memang punya kemampuan untuk merangsang kerja otak dan sistim syaraf agar proses perubahan makin cepat. Tentunya bayi inipun (dengan bantuan rangsangan) akan mencapai perkembangan yang lebih capat dari yang seharusnya.
Disarankan
* Tidak berfikiran untuk “menciptakan bayi ajaib”
* Tidak baik juga, kita “membiarkan” bayi-bayi tumbuh dengan sendirinya
* Sebanyak mungkin memberikan berbagai rangsangan dan stimulan untuk membantu perkembangan anak.
II.Prinsip Kedua
Proses Perkembangan merupakan perubahan dari Konkret dan Sederhana menuju Kompleksitas
Pemahaman anak mengenai dunianya berlangsung secara bertahap. Sebagai contoh, Jika kita bertanya “Apa kesamaan apel dan jeruk?”  Anak usia 2 tahunan akan menjawab apel berwarna merah, jeruk berwarna kuning. Anak tersebut tidak melihat persamaannya, karena kata tersebut masih sulit ia mengerti, yang terlihat adalah perbedaan baginya. Untuk anak usia 3 -5 tahun jawabannya bisa jadi, sama-sama bisa dimakan. Sedang anak usia diatas 5 tahun, lebih dapat mendiskripsikan dengan menjawab, apel dan jeruk, sama-sama buah-buahan.
Sebaiknya :
Untuk hal yang bersifat abstrak, misalnya nilai-nilai religius, anak-anak diajarkan sesuai kemampuannya menganalisa masalah
III. Prinsip ketiga
Tumbuh Kembang merupakan proses berkelanjutan
Seiring dengan perkembangannya, anak akan menambah atau menyempurnakan ketrampilan yang telah dikuasai sebelumnya.  Ketrampilan tsb menjadi dasar perkembangan selanjutnya. Sebagian anak mengikuti pola perkembangan yang sama. Contohnya, dalam perkembangan motorik, seorang anak harus belajar mengangkat kepalanya sebelum ia mampu menoleh. Seorang anak harus mampu mengangkat tangannya lebih dahulu sebelum ia mampu meraih sebuah benda dsbnya.
Sebaiknya :
Selalu memberikan perhatian pada setiap tahap perkembangan anak. Ketrampilan yang ia kuasai sekarang akan jadi landasan ketrampilannya berikutnya. Tidak ada satupun ketrampilan yang tidak penting dan dapat diabaikan.
IV Prinsip keempat
Dari ketrampilan umum ke khusus
Salah satu prinsip ini adalah perkembangan motorik anak. Gerakan fisik anak awalnya sangat umum, tidak terarah, terkendalikan secara refleks, dimulai dari motorik kasar berkembang ke motorik halus. Dalam memegang benda, anak akan memulai dengan mengambil barang-barang besar dan mengakhiri proses ini dengan “menjumput” sebutir nasi.
Sebaiknya:
Anda tidak memberikan tuntutan berlebih kepada anak. Anak-anak harus melewati banyak proses sebelum akhirnya bisa melakuka apa yang kita kerjakan. Misalnya makan sendiri dengan tertib.
V. Prinsip kelima :
“Perbedaan Individual pada Proses Tumbuh Kembang Setiap Anak”

Meskipun pola perkembangan dan tahap-tahapnya relatif sama pada setiap anak, ternyata setiap anak memiliki jadwal sendiri untuk menguasai ketrampilan tertentu.
Sebaiknya :
Anak-anak tidak saling dibandingkan. Ketidak seragaman mereka akan membuat orang tua merasa kecewa dan membuat frustasi, baik untuk orang tuanya maupun pada anak itu sendiri. Tabel perkembangan anak, hanya digunakan sebagai acuan bukan sebagai target.

VI Prinsip Keenam
“Ajak anak untuk berpartisipasi aktif dalam proses perkembangan dan belajar”
Proses belajar melibatkan penyusunan pengetahuan pada diri anak, bukan trasfer informasi dari orangtua. Anak akan membangun pemahamannya melalui ekplorasi, interaksi dengan lingkugannya dan meniru model.
Sebaiknya :
Anda tidak mengkhawatirkan bahwa semua stimulasi dan rangsangan anak harus direncanakan. Anak akan belajar sendiri dari lingkungannya. Sebagai orang tua, kita hanya punya kewajiban menemani dan mengarahkan. Anda akan mengalami masa belajar yang menyenangkan bersama buah hati.

my firs blog

ngilang lagi aq bikin blog nya....hiks...